Manaù-çikñä
Ajaran-Ajaran
kepada Pikiran
(Dari
Prärthanä)
(1) nitäi-pada-kamala,
koöi-candra-suçétala
je chäyäy jagata
juräy
heno nitäi bine
bhäi, rädhä-kåñëa päite näi
dåòha kori’ dharo
nitäir päy
(2)
se sambandha nähi jä’r, båthä janma gelo tä’r
sei paçu boro
duräcär
nitäi nä bolilo
mukhe, majilo saàsära-sukhe
vidyä-kule ki koribe
tär
(3) ahaìkäre matta hoiyä, nitäi-pada
päsariyä
asatyere satya kori
mäni
nitäiyer koruëä
habe, braje rädhä-kåñëa päbe
dharo nitäi-caraëa
du’khäni
(4) nitäiyer caraëa satya, tähära sevaka
nitya
nitäi-pada sadä koro
äça
narottama boro
dukhé, nitäi more koro sukhé
räkho räìgä-caraëera
päça
Penjelasan
Oleh
Çré Çrémad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupäda
Ini lagu yang bagus
sekali oleh Narottama däsa Öhäkura. Beliau me-nyampaikan bahwa nitäi-pada,
kaki-padma Çré Nityänanda (kamala berarti “bunga padma,” dan pada
berarti “kaki”), adalah naungan tempat seseorang akan mendapatkan cahaya bulan
yang menyejukkan yang bukan hanya dari satu bulan, melainkan dari jutaan bulan.
Kita hanya dapat mem-bayangkan nilai keseluruhan dari cahaya menyejukkan yang
dipancarkan oleh jutaan bulan. Di dunia material ini (jagat), yang
sedang bergerak me-nuju neraka, selalu terdapat kobaran api, dan semua orang
berjuang keras tanpa bisa menemukan kedamaian; karena itu, jika dunia
menginginkan kedamaian yang sejati, maka dunia harus berlindung di bawah
kaki-padma Çré Nityänanda, yang menyejukkan bagaikan cahaya jutaan bulan. Juräya
berarti “lega.” Jika seseorang benar-benar menginginkan kelegaan dari
perjuangan untuk hidup dan benar-benar ingin memadamkan kobaran api
kesengsaraan material, Narottama däsa Öhäkura menyarankan, “Ber-lindunglah
kepada Çré Nityänanda.”
Apa hasil dari menerima perlindungan kaki-padma Çré Nityänanda?
Narottama däsa berkata, heno nitäi bine bhäi: kecuali seseorang
berlindung di bawah naungan kaki-padma Çré Nityänanda, rädhä-kåñëa päite näi-akan
sangat sulit baginya untuk mendekati Rädhä-Kåñëa. Tujuan perkumpulan kesadaran
Kåñëa ini adalah untuk memungkinkan kita mendekati Rädhä-Kåñëa dan bergaul
dengan Tuhan Yang Mahakuasa dalam tarian ke-bahagiaan-Nya yang mahamulia.
Narottama däsa Öhäkura menyarankan bahwa jika seseorang benar-benar ingin memasuki
kelompok tarian Rädhä-Kåñëa, ia harus menerima perlindungan kaki-padma Çré
Nityänanda.
Kemudian Narottama däsa berkata, se sambandha nähi. Sambandha
berarti “sambungan” atau “hubungan.” Siapa pun yang belum menjalin hubungan
dengan Nityänanda dimengerti bahwa ia telah menyia-nyiakan kelahirannya sebagai
manusia. Juga dalam lagu lainnya, Narottama däsa berkata, hari hari bifale
janama goìäinu: orang yang tidak mendekati Rädhä-Kåñëa melalui hubungan
dengan Nityänanda telah menyia-nyiakan kehidupannya. Båthä berarti
“sia-sia,” janma berarti “kehidupan,” tä’r berarti “miliknya,”
dan sambandha berarti “hubungan.” Siapa pun yang tidak menjalin hubungan
dengan Nityänanda hanyalah sedang menyia-nyiakan berkat kehidupannya sebagai
manusia. Mengapa ia menyia-nyiakannya? Sei paçu boro duräcär. Sei
berarti “itu,” paçu berarti “binatang,” dan duräcär berarti
“prilaku tidak baik” atau “yang berprilaku paling tidak baik.” Tanpa diangkat
sampai ke-sadaran Kåñëa melalui karunia Çré Caitanya dan Nityänanda, hidup hanya-lah
tersia-siakan dalam kecenderungan binatang untuk memuaskan indera. Narottama
däsa mengatakan bahwa binatang biasa bisa dijinakkan, tapi apabila manusia
memiliki sifat seperti binatang, hanya memiliki ke-cenderungan-kecenderungan
binatang, maka ia paling mengerikan, sebab ia tidak bisa dijinakkan. Kucing dan
anjing biasa atau bahkan macan bisa dijinakkan, tapi apabila manusia tersesat
dan lalai untuk melakukan ke-giatan sebagai manusia yakni kesadaran Kåñëa,
kecerdasannya yang lebih tinggi hanya akan disalahgunakan untuk
kecenderungan-kecenderungan binatang, dan sangatlah sulit untuk menjinakkan
dia. Penerapan hukum negara tidak mampu mengubah pencuri menjadi orang yang
jujur–sebab hatinya telah tercemari, ia tidak bisa dijinakkan. Setiap orang
melihat bahwa orang yang melakukan tindakan kejahatan dikenakan hukuman oleh
pemerintah, dan juga dalam ketentuan-ketentuan kitab suci di-sebutkan tentang
hukuman di neraka. Namun walaupun telah mendengar dari kitab suci dan melihat
tindakan nyata berupa hukum negara, orang-orang jahat tidak bisa disadarkan.
Apa yang sedang mereka lakukan? Nitäi nä bolilo mukhe. Karena
mereka tidak mengetahui siapa itu Nityänanda, mereka tidak pernah mengucapkan
nama-nama Çré Nityänanda dan Çré Caitanya. Majilo saàsära-sukhe. Majilo
berarti “menjadi larut.” Mereka menjadi larut dalam apa yang disebut-sebut
kenikmatan duniawi. Mereka tidak peduli siapa Çré Caitanya dan Nityänanda, dan
karena itu mereka terperosok semakin dalam ke dalam kehidupan material. Vidyä-kule
ki koribe tär: jika seseorang tidak memiliki hubungan dengan Nityänanda,
dan jika ia tidak datang kepada kesadaran Kåñëa, vidyä miliknya, atau
apa yang disebut-sebut pendidikan akademisnya, dan kula, kelahiran dalam
keluarga berderajat tinggi atau bangsa yang besar, tidak akan melindungi dia.
Tidak memandang apakah seseorang lahir di tengah keluarga bangsawan atau bangsa
yang besar atau telah menjalani pendidikan akademis yang sangat maju, pada saat
kematian hukum alam akan bertindak, pekerjaannya akan diakhiri, dan ia akan
mendapatkan badan lain sesuai dengan pekerjaan tersebut.
Mengapa manusia yang memiliki sifat seperti binatang ini bertindak
dengan cara demikian? Ahaìkäre matta hoiyä, nitäi-pada päsariyä. Mereka
telah dibuat gila oleh konsep palsu kehidupan jasmani sehingga mereka lupa akan
hubungan kekal mereka dengan Nityänanda. Asatyere satya kori mäni:
jiwa-jiwa yang telah lupa seperti itu menganggap energi yang me-nyesatkan
sebagai hal yang nyata. Asatyere mengacu pada sesuatu yang bukan
kenyataan, atau, dengan kata lain, mäyä. Mäyä berarti sesuatu
yang bukan kenyataan melainkan hanya ilusi yang bersifat sementara. Orang yang
tidak memiliki hubungan dengan Nityänanda menganggap badan yang merupakan ilusi
ini sebagai kenyataan.
Narottama däsa Öhäkura kemudian berkata, nitäiyer koruëä habe,
braje rädhä-kåñëa päbe: “Jika engkau benar-benar ingin mendekati pergaulan
Rädha-Kåñëa, pertama-tama engkau harus mendapatkan karunia Çré Nityänanda.
Ketika Çré Nityänanda berkarunia kepadamu, maka engkau akan mampu mendekati
Rädhä-Kåñëa.” Dharo nitäi-caraëa du’khäni. Narottama däsa menyarankan
agar seseorang mendekap dengan erat kaki-padma Çré Nityänanda.
Kemudian kembali Narottama däsa berkata, nitäi-caraëa satya.
Orang hendaknya tidak salah mengerti dan berpikir bahwa seperti halnya ia telah
mendekap mäyä, demikian pula kaki-padma Nityänanda mungkin juga adalah
sesuatu yang seperti mäyä, atau ilusi itu. Karena itu Narottama däsa
membenarkan, nitäi-caraëa satya: kaki-padma Nityänanda bukanlah ilusi,
melainkan adalah kenyataan. Tähära sevaka nitya: dan orang yang tekun
dalam pelayanan cinta kasih rohani kepada Nityänanda juga bersifat rohani.
Apabila seseorang tekun dalam pelayanan cinta kasih rohani kepada Nityänanda
dalam kesadaran Kåñëa, ia segera mencapai kedudukan rohaninya pada tingkatan
rohani, yang kekal dan penuh kebahagiaan. Karena itu Narottama däsa
menyarankan, nitäi-pada sadä koro äça: selalulah berusaha untuk memegang
kaki-padma Çré Nityänanda.
Narottama boro dukhé. Narottama däsa Öhäkura, sang äcärya,
sedang mengambil kedudukan seolah-olah dirinya sangat tidak bahagia.
Sebenar-nya, beliau mewakili diri kita. Beliau berkata, “Oh Tuhanku, aku sangat
tidak bahagia.” Nitäi more koro sukhé: “Karena itu aku berdoa kepada Çré
Nityänanda agar membuatku bahagia.” Räkho räìgä-caraëera päça: “Mohon
menempatkan aku di salah satu sudut kaki-padma-Mu.”
No comments:
Post a Comment
hare krishna, terima kasih