Wednesday, October 16, 2013

Savarana sri gaura mahima



Sävaraëa-çré-gaura-mahimä
Keagungan Çré Gauräìga
(Dari Prärthanä)

(1)              gauräìgera duöi pada, jär dhana sampada,
se jäne bhakati-rasa-sär
gauräìgera madhura-lélä, jär karëe praveçilä,
hådoya nirmala bhelo tär

(2)            je gauräìgera näma loy, tära hoy premodoy,
täre mui jäi bolihäri
gauräìga-guëete jhure, nitya-lélä täre sphure,
se jana bhakati-adhikäré

(3)          gauräìgera saìgi-gaëe, nitya-siddha kori’ mäne,
se jäy brajendra-suta-päç
çré-gauòa-maëòala-bhümi, jebä jäne cintämaëi,
tära hoy braja-bhüme bäs

(4)           gaura-prema-rasärëave, çe taraìge jebä òube,
se rädhä-mädhava-antaraìga
gåhe bä vanete thäke, ‘hä gauräìga’ bo’le òäke,
narottama mäge tära saìga
 

Penjelasan
Oleh Çré Çrémad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupäda

Ini adalah sebuah lagu karya Narottama däsa Öhäkura untuk memuji ke-agungan Çré Caitanya. Gauräìga berarti Çré Caitanya, yang memiliki corak kulit putih. Orang yang memiliki corak kulit putih disebut gaura. Oleh karena Çré Caitanya sangat putih, persis seperti emas cair, Dia juga bernama Gaurasundara. Narottama däsa Öhäkura berkata, gauräìgera duöi pada, jär dhana-sampada, se jäne bhakati-rasa-sär. Siapa pun yang telah menerima dua kaki-padma Çré Caitanya, dapat mengerti hakikat sejati bhakti. Bhakti itu sulit sekali dan tidak dapat dimengerti oleh orang biasa. Sebagaimana dinyatakan di dalam Bhagavad-gétä, di antara beribu-ribu orang yang sedang berusaha untuk mencapai kesempurnaan kehidupan manusia, hanya beberapa saja yang sungguh-sungguh menjadi sempurna dan menginsafi sang diri. Dan di antara beribu-ribu orang yang  telah menginsafi diri seperti itu, hanya satu yang mampu mengerti tentang Kåñëa. Tanpa me-ngerti tentang Kåñëa, bagaimana mungkin seseorang dapat menyibukkan dirinya dalam pelayanan kepada Kåñëa? Karena itu, bhakti kepada Kåñëa bukanlah hal biasa. Tapi untungnya, jika seseorang mengikuti jejak langkah Çré Caitanya (gauräìgera duöi pada) dengan cara mengikuti jalan yang di-tunjukkan oleh Çré Caitanya—proses yang cukup dengan mengucapkan Hare Kåñëa—ia mampu mengerti apa bhakti itu dengan mudah sekali. Karena itu, Narottama däsa Öhäkura berdoa agar orang berlindung kepada Çré Caitanya dan mengikuti jejak langkah-Nya, sebab dengan demikian mereka dapat mengerti hakikat dari bhakti.
Kegiatan-kegiatan Çré Caitanya sangat menyenangkan hati, sebab prinsip-prinsip dasar perkumpulan Çré Caitanya ini adalah mengucapkan mantra Hare Kåñëa, menari dan makan kåñëa-prasäda. Çré Caitanya menjadikan Jagannätha Puré sebagai markas besarnya dan biasa menari, mengucapkan Hare Kåñëa, dan kemudian segera meminta agar prasäda dibagikan kepada para penyembah. Mereka begitu bahagia sehingga setiap hari beratus-ratus orang datang untuk menyanyi dan menari bersama Çré Caitanya. Pemilik kuil, Raja Orissa, Maharaja Prataparudra, telah memberi perintah terbuka kepada para pekerja di kuil agar menyediakan prasäda kepada para pe-nyembah Çré Caitnya sebanyak yang mereka inginkan. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan Çré Caitanya sangat menyenangkan: menyanyi, menari dan menerima prasäda. Jika seseorang terpikat oleh kegiatan-kegiatan Çré Caitanya, maka cukup dengan menari, menyanyi dan makan prasäda, semua hal kotor di hatinya disucikan. Segala pencemaran duniawi yang kotor akan disucikan dari hati siapa pun yang ikut dalam gerakan menyanyi, me-nari dan makan prasäda tersebut. Narottama däsa Öhäkura mengatakan dengan tepat sekali, gauräìgera madhura-lélä, jär karëe praveçilä, hådoya nirmala bhelo tär: jika seseorang ingin menyucikan hatinya, maka ia harus mengikuti perkumpulan Çré Caitanya—Kesadaran Kåñëa.
Çré Caitanya begitu baik sehingga orang yang hanya mengucapkan nama suci Gaurasundara, yaitu Çré Kåñëa Caitanya, akan segera mengembangkan cinta kasih kepada Tuhan. Pada umumnya, para penyembah mengucapkan mantra çré-kåñëa-caitanya prabhu nityänanda terlebih dahulu sebab proses awal untuk menyucikan hati adalah dengan memohon karunia Çré Caitanya, Çré Nityänanda dan rekan-rekan Mereka. Lélä berarti “kegiatan”. Tanpa rekan-rekan, tidak mungkin ada kegiatan. Jadi, Caitanya Mahäprabhu selalu diiringi oleh rekan-rekan-Nya—Nityänanda, Advaita, Gadädhara, Çréväsa, dan banyak penyembah lainnya.
Tar berarti “miliknya”, hoy berarti “diwujudkan”, dan premadoy berarti berkembangnya cinta kasih kepada Tuhan. Cukup dengan mengucapkan çré-kåñëa-caitanya prabhu nityänanda, cinta kasih kepada Tuhan berkembang di hati seseorang. Narottama däsa Öhäkura berkata, “Bagus!” untuk me-nyemangatkan dia dalam menyanyikan nama Çré Caitanya. Seperti halnya kita bertepuk tangan dan berkata, “Bagus!” begitu pula Narottama däsa berkata, jäi bolihäri: “Bagus sekali. Luar biasa!”
Kemudian Narottama däsa berkata, gauräìga-guëete jhure, nitya-lélä täre sphure: jika seseorang menghargai kegiatan Çré Caitanya yang penuh karunia dan merasakan kebahagiaan rohani sehingga kadang-kadang me-nangis, maka proses ini akan segera membantu dia untuk mengerti kegiatan-kegiatan Rädhä dan Kåñëa yang disebut nitya-lélä. Kegiatan percintaan rohani antara Rädhä dan Kåñëa bukanlah hal yang bersifat sementara. Di dunia material ini, kita dapat melihat kegiatan percintaan antara pemuda dan dan pemudi, tetapi kegiatan itu bersifat sementara, paling selama be-berapa bulan, beberapa tahun, atau mungkin lebih sedikit. Tetapi kemudian semua yang disebut-sebut cinta itu akan masuk neraka. Cinta tersebut tidak kekal. Namun jika seseorang benar-benar menginginkan kegiatan cinta yang kekal, maka ia harus memasuki kegiatan Rädhä dan Kåñëa. Cukup dengan menghargai gerakan Çré Caitanya seseorang dapat langsung masuk atau mengerti tentang kegiatan Rädhä-Kåñëa yang kekal. Orang yang mampu mengerti kegiatan kekal-rohani Rädhä-Kåñëa akan mencapai tahap ke-sempurnaan tertinggi dalam bhakti.
Baris berikutnya berbunyi, gauräìgera saìgi-gaëe. Saìgi-gaëe berarti “rekan-rekan”. Çré Caitanya selalu bersama yang lain: Dia tidak sendirian. Kita tidak pernah melihat gambar Çré Caitanya sendirian. Sekurang-kurang-nya pasti ada Çré Nityänanda dan Çré Gadädhara Paëòita. Sebenarnya di mana pun Çré Caitanya berada, beribu-ribu penyembah berkumpul. Pe-nyembah-penyembah tersebut, terutama rekan-rekan terdekat-Nya, adalah nitya-siddha. Ada tiga jenis penyembah yang sempurna dalam garis per-guruan bhakti, yaitu sädhana-siddha, kåpä-siddha dan nitya-siddha. Sädhana-siddha berarti orang yang telah mengikuti aturan dan peraturan secara tegas sekali sehingga mencapai kesempurnaan dengan melaksanakan prinsip-prinsip aturan. Sedangkan kåpä-siddha berarti dia yang berangkali belum melaksanakan prinsip-prinsip aturan dengan tegas sekali, tetapi ia mendapat karunia khusus dari guru spiritual atau Kåñëa karena sikap pe-layanannya. Dan ia langsung diangkat sampai tahap kesempurnaan. Nitya siddha adalah orang yang tidak pernah tercemar oleh alam material. Para sädhana-siddha dan para kåpä-siddha pernah dicemari oleh alam material namun para nitya-siddha tidak pernah berhubungan dengan alam material. Semua rekan Çré Caitanya Mahäprabhu adalah para nitya-siddha, atau sempurna selamanya. Nityänanda Prabhu adalah Balaräma, perbanyakan langsung dari Çré Kåñëa; Advaita Prabhu adalah Mahä-Viñëu (Advaita juga adalah viñëu-tattva); Gadädhara Prabhu adalah perbanyakan dari Çrématé Rädhäräëé dan Çréväsa adalah inkarnasi Närada. Mereka semua nitya-siddha, atau sempurna secara kekal. Mereka tidak pernah tidak sempurna. Mereka tidak pernah berhubungan dengan pencemaran material. Hendak-nya kita mengerti bahwa seperti halnya Çré Caitanya Mahäprabhu, yang adalah Çré Kåñëa sendiri, bersifat melampaui hal-hal material, begitu pula, rekan-rekan pribadi Çré Caitanya juga nitya-siddha, atau secara kekal me-lampaui hal-hal material. Se jäy brajendra-suta-päç. Brajendra-suta berarti Kåñëa. Cukup dengan mengakui bahwa rekan-rekan Çré Caitanya bebas selamanya, orang dapat langsung diangkat sampai kediaman rohani Kåñëa.
Çré-gauòa-maëòala-bhümi. Gauòa berarti daerah Benggala Barat. Çré Caitanya muncul di Benggala Barat, Navadvépa. Çré Caitanya secara khusus membanjiri daerah itu dengan gerakan sankirtana. Tempat itu mempunyai makna khusus, sebab ia tidak berbeda dengan Våndävana dan ia sebaik Våndävana. Tinggal di Våndävana dan tinggal di Navadvépa adalah sama. Narottama däsa Öhäkura berkata, çré-gauòa-maëòala-bhümi, jebä jäne cintämaëi. Cintämaëi berarti tempat tinggal rohani. Tära hoy braja-bhüme bäs. Jika seseorang hanya mengerti saja bahwa tanah Navadvépa tidak berbeda dengan Våndävana, maka sebenarnya ia tinggal di Våndävana. Hendaknya ia tidak berpikir dirinya tinggal di Benggala atau negara lain yang bersifat material; tempat-tempat Çré Caitanya melakukan kegiatan-Nya adalah sebaik Våndävana.
Penyebaran cinta kasih kepada Tuhan yang dilakukan oleh Çré Caitanya diumpamakan sebagai lautan (rasa-arëava). Lautan yang bagaimana? Bukan lautan asin yang tidak bisa diminum. Air yang ada di dalam lautan tersebut begitu bagus sehingga dengan hanya meminum setetes air dari lautan tersebut, maka kita akan menginginkannya lebih banyak lagi. Tidak seperti air laut biasa yang tidak enak diminum setetes pun. Maka dari itu lautan tersebut disebut rasarëava. Ada berbagai ombak di lautan tersebut. Lautan tidak pernah diam, sebab lautan bukan impersonal atau kekosongan. Seperti halnya lautan selalu menari dengan ombak-ombaknya, begitu pula lautan cinta kasih rohani kepada Kåñëa seperti yang diperkenalkan oleh Çré Caitanya senantiasa memiliki ombak-ombak dan suara. Kita harus menyelam sampai dalam ke dalam lautan tersebut. Jika seseorang mengetahui rahasia tersebut dan berkata, “Aku harus menyelam sampai dalam ke dalam lautan cinta kasih rohani yang diperkenalkan oleh Çré Caitanya,” maka ia segera menjadi salah seorang penyembah dekat Rädhä dan Kåñëa.
Karena itu, Narottama däsa Öhäkura mengakhiri lagu ini dan berkata, gåhe bä vanete thäke, ‘hä gauräìga’ bo ‘le òäke. Orang tidak mesti menjadi petapa atau meninggalkan kehidupan berkeluarga dan masyarakat. Ia bisa hidup dalam keadaan bagaimana pun yang cocok baginya, baik sebagai orang yang berumah tangga, sebagai brahmacäré, vänaprastha, atau sebagai sannyäsé. Para vänaprastha dan sannyäsé mesti tinggal di luar kota. Vanete berarti “hutan”. Pada zaman sebelumnya, mereka yang berkesadaran rohani biasa tinggal di hutan untuk menghindar dari kebisingan kota. Tetapi pada zaman sekarang, seseorang tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Pada zaman sekarang, tidak seorang pun sanggup tingal di hutan. Hal tersebut membutuhkan latihan, dan tidak ada seorang pun yang berlatih jalan ter-sebut. Karena itu, pada umumnya seseorang dianjurkan untuk hidup ber-sama kawan-kawan, istri dan anak-anaknya. Itu tidak menjadi soal. Tetapi ia harus menjalani proses Kesadaran Kåñëa seperti yang diperkenalkan oleh Çré Caitanya. Proses ini tidak sulit. Hakikatnya ialah bahwa kita harus menerima gerakan Çré Caitanya—menari, mengucapkan nama suci Tuhan dan makan kåñëa-prasäda. Bahkan jika seseorang hidup berkeluarga, tidak ada kesulitan. Ia bisa duduk saja, mengucapkan Hare Kåñëa, menari dengan baik, dan kemudian menerima kåñëa-prasäda. Siapa pun dapat melakukan-nya. Mereka yang telah melepaskan ikatan terhadap dunia ini, yakni para sannyäsé, juga dapat melakukan semua ini. Tidak ada kesulitan. Karena itu, Narottama däsa Öhäkura mengatakan bahwa tidak menjadi soal, apakah seseorang itu brahmacäré, gåhastha, ataupun sannyäsé. Narottama däsa Öhäkura berkata, “Jika engkau telah mengikuti prinsip-prinsip hidup ini, aku menginginkan pergaulanmu. Sebab engkau adalah penyembah Çré Caitanya.” Demikianlah Narottama däsa Öhäkura mengakhiri lagunya.

No comments:

Post a Comment

hare krishna, terima kasih