Sävaraëa-çré-gaura-mahimä
Keagungan
Çré Gauräìga
(Dari
Prärthanä)
(1) gauräìgera duöi pada, jär dhana
sampada,
se jäne
bhakati-rasa-sär
gauräìgera
madhura-lélä, jär karëe praveçilä,
hådoya nirmala bhelo
tär
(2) je gauräìgera näma loy, tära hoy
premodoy,
täre mui jäi
bolihäri
gauräìga-guëete
jhure, nitya-lélä täre sphure,
se jana
bhakati-adhikäré
(3)
gauräìgera saìgi-gaëe, nitya-siddha kori’ mäne,
se jäy
brajendra-suta-päç
çré-gauòa-maëòala-bhümi,
jebä jäne cintämaëi,
tära hoy braja-bhüme
bäs
(4) gaura-prema-rasärëave, çe taraìge jebä
òube,
se
rädhä-mädhava-antaraìga
gåhe bä vanete
thäke, ‘hä gauräìga’ bo’le òäke,
narottama mäge tära
saìga
Penjelasan
Oleh
Çré Çrémad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupäda
Ini adalah sebuah
lagu karya Narottama däsa Öhäkura untuk memuji ke-agungan Çré Caitanya. Gauräìga
berarti Çré Caitanya, yang memiliki corak kulit putih. Orang yang memiliki
corak kulit putih disebut gaura. Oleh karena Çré Caitanya sangat putih,
persis seperti emas cair, Dia juga bernama Gaurasundara. Narottama däsa Öhäkura
berkata, gauräìgera duöi pada, jär dhana-sampada, se jäne bhakati-rasa-sär.
Siapa pun yang telah menerima dua kaki-padma Çré Caitanya, dapat mengerti
hakikat sejati bhakti. Bhakti itu sulit sekali dan tidak dapat
dimengerti oleh orang biasa. Sebagaimana dinyatakan di dalam Bhagavad-gétä,
di antara beribu-ribu orang yang sedang berusaha untuk mencapai kesempurnaan
kehidupan manusia, hanya beberapa saja yang sungguh-sungguh menjadi sempurna
dan menginsafi sang diri. Dan di antara beribu-ribu orang yang telah menginsafi diri seperti itu, hanya satu
yang mampu mengerti tentang Kåñëa. Tanpa me-ngerti tentang Kåñëa, bagaimana
mungkin seseorang dapat menyibukkan dirinya dalam pelayanan kepada Kåñëa?
Karena itu, bhakti kepada Kåñëa bukanlah hal biasa. Tapi untungnya, jika
seseorang mengikuti jejak langkah Çré Caitanya (gauräìgera duöi pada)
dengan cara mengikuti jalan yang di-tunjukkan oleh Çré Caitanya—proses yang
cukup dengan mengucapkan Hare Kåñëa—ia mampu mengerti apa bhakti itu
dengan mudah sekali. Karena itu, Narottama däsa Öhäkura berdoa agar orang
berlindung kepada Çré Caitanya dan mengikuti jejak langkah-Nya, sebab dengan
demikian mereka dapat mengerti hakikat dari bhakti.
Kegiatan-kegiatan Çré Caitanya sangat menyenangkan hati, sebab
prinsip-prinsip dasar perkumpulan Çré Caitanya ini adalah mengucapkan mantra
Hare Kåñëa, menari dan makan kåñëa-prasäda. Çré Caitanya menjadikan
Jagannätha Puré sebagai markas besarnya dan biasa menari, mengucapkan Hare
Kåñëa, dan kemudian segera meminta agar prasäda dibagikan kepada para
penyembah. Mereka begitu bahagia sehingga setiap hari beratus-ratus orang
datang untuk menyanyi dan menari bersama Çré Caitanya. Pemilik kuil, Raja
Orissa, Maharaja Prataparudra, telah memberi perintah terbuka kepada para
pekerja di kuil agar menyediakan prasäda kepada para pe-nyembah Çré
Caitnya sebanyak yang mereka inginkan. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan Çré
Caitanya sangat menyenangkan: menyanyi, menari dan menerima prasäda.
Jika seseorang terpikat oleh kegiatan-kegiatan Çré Caitanya, maka cukup dengan
menari, menyanyi dan makan prasäda, semua hal kotor di hatinya
disucikan. Segala pencemaran duniawi yang kotor akan disucikan dari hati siapa
pun yang ikut dalam gerakan menyanyi, me-nari dan makan prasäda
tersebut. Narottama däsa Öhäkura mengatakan dengan tepat sekali, gauräìgera
madhura-lélä, jär karëe praveçilä, hådoya nirmala bhelo tär: jika seseorang
ingin menyucikan hatinya, maka ia harus mengikuti perkumpulan Çré Caitanya—Kesadaran
Kåñëa.
Çré Caitanya begitu baik sehingga orang yang hanya mengucapkan nama
suci Gaurasundara, yaitu Çré Kåñëa Caitanya, akan segera mengembangkan cinta
kasih kepada Tuhan. Pada umumnya, para penyembah mengucapkan mantra çré-kåñëa-caitanya
prabhu nityänanda terlebih dahulu sebab proses awal untuk menyucikan
hati adalah dengan memohon karunia Çré Caitanya, Çré Nityänanda dan rekan-rekan
Mereka. Lélä berarti “kegiatan”. Tanpa rekan-rekan, tidak mungkin ada
kegiatan. Jadi, Caitanya Mahäprabhu selalu diiringi oleh
rekan-rekan-Nya—Nityänanda, Advaita, Gadädhara, Çréväsa, dan banyak penyembah
lainnya.
Tar
berarti “miliknya”, hoy berarti “diwujudkan”, dan premadoy
berarti berkembangnya cinta kasih kepada Tuhan. Cukup dengan mengucapkan çré-kåñëa-caitanya
prabhu nityänanda, cinta kasih kepada Tuhan berkembang di hati seseorang.
Narottama däsa Öhäkura berkata, “Bagus!” untuk me-nyemangatkan dia dalam
menyanyikan nama Çré Caitanya. Seperti halnya kita bertepuk tangan dan berkata,
“Bagus!” begitu pula Narottama däsa berkata, jäi bolihäri: “Bagus
sekali. Luar biasa!”
Kemudian Narottama däsa berkata, gauräìga-guëete jhure, nitya-lélä
täre sphure: jika seseorang menghargai kegiatan Çré Caitanya yang penuh
karunia dan merasakan kebahagiaan rohani sehingga kadang-kadang me-nangis, maka
proses ini akan segera membantu dia untuk mengerti kegiatan-kegiatan Rädhä dan
Kåñëa yang disebut nitya-lélä. Kegiatan percintaan rohani antara Rädhä
dan Kåñëa bukanlah hal yang bersifat sementara. Di dunia material ini, kita
dapat melihat kegiatan percintaan antara pemuda dan dan pemudi, tetapi kegiatan
itu bersifat sementara, paling selama be-berapa bulan, beberapa tahun, atau
mungkin lebih sedikit. Tetapi kemudian semua yang disebut-sebut cinta itu akan
masuk neraka. Cinta tersebut tidak kekal. Namun jika seseorang benar-benar
menginginkan kegiatan cinta yang kekal, maka ia harus memasuki kegiatan Rädhä
dan Kåñëa. Cukup dengan menghargai gerakan Çré Caitanya seseorang dapat
langsung masuk atau mengerti tentang kegiatan Rädhä-Kåñëa yang kekal. Orang
yang mampu mengerti kegiatan kekal-rohani Rädhä-Kåñëa akan mencapai tahap
ke-sempurnaan tertinggi dalam bhakti.
Baris berikutnya berbunyi, gauräìgera saìgi-gaëe. Saìgi-gaëe
berarti “rekan-rekan”. Çré Caitanya selalu bersama yang lain: Dia tidak
sendirian. Kita tidak pernah melihat gambar Çré Caitanya sendirian.
Sekurang-kurang-nya pasti ada Çré Nityänanda dan Çré Gadädhara Paëòita.
Sebenarnya di mana pun Çré Caitanya berada, beribu-ribu penyembah berkumpul.
Pe-nyembah-penyembah tersebut, terutama rekan-rekan terdekat-Nya, adalah nitya-siddha.
Ada tiga jenis penyembah yang sempurna dalam garis per-guruan bhakti,
yaitu sädhana-siddha, kåpä-siddha dan nitya-siddha. Sädhana-siddha
berarti orang yang telah mengikuti aturan dan peraturan secara tegas sekali
sehingga mencapai kesempurnaan dengan melaksanakan prinsip-prinsip aturan.
Sedangkan kåpä-siddha berarti dia yang berangkali belum melaksanakan
prinsip-prinsip aturan dengan tegas sekali, tetapi ia mendapat karunia khusus
dari guru spiritual atau Kåñëa karena sikap pe-layanannya. Dan ia langsung
diangkat sampai tahap kesempurnaan. Nitya siddha adalah orang yang tidak
pernah tercemar oleh alam material. Para sädhana-siddha dan para kåpä-siddha
pernah dicemari oleh alam material namun para nitya-siddha tidak pernah
berhubungan dengan alam material. Semua rekan Çré Caitanya Mahäprabhu adalah
para nitya-siddha, atau sempurna selamanya. Nityänanda Prabhu adalah
Balaräma, perbanyakan langsung dari Çré Kåñëa; Advaita Prabhu adalah Mahä-Viñëu
(Advaita juga adalah viñëu-tattva); Gadädhara Prabhu adalah perbanyakan
dari Çrématé Rädhäräëé dan Çréväsa adalah inkarnasi Närada. Mereka semua nitya-siddha,
atau sempurna secara kekal. Mereka tidak pernah tidak sempurna. Mereka tidak
pernah berhubungan dengan pencemaran material. Hendak-nya kita mengerti bahwa
seperti halnya Çré Caitanya Mahäprabhu, yang adalah Çré Kåñëa sendiri, bersifat
melampaui hal-hal material, begitu pula, rekan-rekan pribadi Çré Caitanya juga nitya-siddha,
atau secara kekal me-lampaui hal-hal material. Se jäy brajendra-suta-päç.
Brajendra-suta berarti Kåñëa. Cukup dengan mengakui bahwa rekan-rekan Çré
Caitanya bebas selamanya, orang dapat langsung diangkat sampai kediaman rohani
Kåñëa.
Çré-gauòa-maëòala-bhümi. Gauòa berarti daerah Benggala Barat. Çré
Caitanya muncul di Benggala Barat, Navadvépa. Çré Caitanya secara khusus
membanjiri daerah itu dengan gerakan sankirtana. Tempat itu mempunyai
makna khusus, sebab ia tidak berbeda dengan Våndävana dan ia sebaik Våndävana.
Tinggal di Våndävana dan tinggal di Navadvépa adalah sama. Narottama däsa
Öhäkura berkata, çré-gauòa-maëòala-bhümi, jebä jäne cintämaëi. Cintämaëi
berarti tempat tinggal rohani. Tära hoy braja-bhüme bäs. Jika seseorang
hanya mengerti saja bahwa tanah Navadvépa tidak berbeda dengan Våndävana, maka
sebenarnya ia tinggal di Våndävana. Hendaknya ia tidak berpikir dirinya tinggal
di Benggala atau negara lain yang bersifat material; tempat-tempat Çré Caitanya
melakukan kegiatan-Nya adalah sebaik Våndävana.
Penyebaran cinta kasih kepada Tuhan yang dilakukan oleh Çré Caitanya
diumpamakan sebagai lautan (rasa-arëava). Lautan yang bagaimana? Bukan
lautan asin yang tidak bisa diminum. Air yang ada di dalam lautan tersebut
begitu bagus sehingga dengan hanya meminum setetes air dari lautan tersebut,
maka kita akan menginginkannya lebih banyak lagi. Tidak seperti air laut biasa
yang tidak enak diminum setetes pun. Maka dari itu lautan tersebut disebut rasarëava.
Ada berbagai ombak di lautan tersebut. Lautan tidak pernah diam, sebab lautan bukan
impersonal atau kekosongan. Seperti halnya lautan selalu menari dengan
ombak-ombaknya, begitu pula lautan cinta kasih rohani kepada Kåñëa seperti yang
diperkenalkan oleh Çré Caitanya senantiasa memiliki ombak-ombak dan suara. Kita
harus menyelam sampai dalam ke dalam lautan tersebut. Jika seseorang mengetahui
rahasia tersebut dan berkata, “Aku harus menyelam sampai dalam ke dalam lautan
cinta kasih rohani yang diperkenalkan oleh Çré Caitanya,” maka ia segera
menjadi salah seorang penyembah dekat Rädhä dan Kåñëa.
Karena itu, Narottama däsa Öhäkura mengakhiri lagu ini dan berkata, gåhe
bä vanete thäke, ‘hä gauräìga’ bo ‘le òäke. Orang tidak mesti menjadi
petapa atau meninggalkan kehidupan berkeluarga dan masyarakat. Ia bisa hidup
dalam keadaan bagaimana pun yang cocok baginya, baik sebagai orang yang berumah
tangga, sebagai brahmacäré, vänaprastha, atau sebagai sannyäsé.
Para vänaprastha dan sannyäsé mesti tinggal di luar kota. Vanete
berarti “hutan”. Pada zaman sebelumnya, mereka yang berkesadaran rohani biasa
tinggal di hutan untuk menghindar dari kebisingan kota. Tetapi pada zaman
sekarang, seseorang tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Pada zaman
sekarang, tidak seorang pun sanggup tingal di hutan. Hal tersebut membutuhkan
latihan, dan tidak ada seorang pun yang berlatih jalan ter-sebut. Karena itu,
pada umumnya seseorang dianjurkan untuk hidup ber-sama kawan-kawan, istri dan
anak-anaknya. Itu tidak menjadi soal. Tetapi ia harus menjalani proses
Kesadaran Kåñëa seperti yang diperkenalkan oleh Çré Caitanya. Proses ini tidak
sulit. Hakikatnya ialah bahwa kita harus menerima gerakan Çré Caitanya—menari,
mengucapkan nama suci Tuhan dan makan kåñëa-prasäda. Bahkan jika
seseorang hidup berkeluarga, tidak ada kesulitan. Ia bisa duduk saja,
mengucapkan Hare Kåñëa, menari dengan baik, dan kemudian menerima kåñëa-prasäda.
Siapa pun dapat melakukan-nya. Mereka yang telah melepaskan ikatan terhadap
dunia ini, yakni para sannyäsé, juga dapat melakukan semua ini. Tidak
ada kesulitan. Karena itu, Narottama däsa Öhäkura mengatakan bahwa tidak
menjadi soal, apakah seseorang itu brahmacäré, gåhastha, ataupun sannyäsé.
Narottama däsa Öhäkura berkata, “Jika engkau telah mengikuti prinsip-prinsip
hidup ini, aku menginginkan pergaulanmu. Sebab engkau adalah penyembah Çré Caitanya.”
Demikianlah Narottama däsa Öhäkura mengakhiri lagunya.
No comments:
Post a Comment
hare krishna, terima kasih