Sävaraëa-çré-gaura-päda-padme
Doa
kepada Kaki-Padma Çré Gauräìga
(Dari
Prärthanä)
(1) çré-kåñëa-caitanya prabhu doyä koro more
tomä binä ke doyälu
jagat-saàsäre
(2) patita-pävana-hetu tava avatära
mo sama patita prabhu nä
päibe ära
(3) hä hä prabhu nityänanda, premänanda sukhé
kåpäbalokana koro ämi boro
duùkhé
(4) doyä koro sétä-pati adwaita gosäi
tava kåpä-bale päi
caitanya-nitäi
(5) hä hä swarüp, sanätana, rüpa, raghunätha
bhaööa-juga, çré-jéva hä
prabhu lokanätha
(6) doyä koro çré-äcärya prabhu çréniväsa
rämacandra-saìga mäge
narottama-däsa
Penjelasan
Oleh
Çré-Çrémad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupäda
Ini adalah sebuah
lagu karya Narottama däsa Öhäkura. Beliau berdoa kepada Çré Caitanya, “Tuhan
yang hamba cintai, mohon berkarunia kepada hamba, sebab siapa lagi yang bisa
lebih penuh karunia daripada Engkau di ketiga dunia ini?” Sebenarnya, ini
adalah sebuah kenyataan. Bukan hanya Narottama däsa Öhäkura, tetapi Çréla Rüpa
Gosvämé juga berdoa kepada Çré Caitanya dengan cara yang sama. Pada waktu Çré
Caitanya dan Rüpa Gosvämé berjumpa untuk pertama kalinya di Prayaga
(Allahabad), Çréla Rüpa Gosvämé berkata, “Tuhan yang hamba cintai, Engkau
adalah yang paling murah hati di antara semua inkarnasi Tuhan, sebab Engkau
mem-bagikan cinta kasih kepada Kåñëa, yaitu Kesadaran Kåñëa.” Pada waktu Çré
Kåñëa sendiri hadir di dunia ini, Kåñëa hanya meminta kita untuk berserah diri,
tetapi Kåñëa tidak membagikan Diri-Nya kepada orang lain dengan begitu mudah.
Kåñëa membuat persyaratan, “Pertama-tama engkau harus menyerahkan diri.” Tetapi
dalam inkarnasi ini, walaupun Çré Caitanya adalah Kåñëa Sendiri, Dia tidak
membuat persyaratan seperti itu. Dia mem-bagikan saja: “Terimalah cinta kasih
kepada Kåñëa ini.” Karena itu, Çré Caitanya dibenarkan sebagai inkarnasi-Tuhan
yang paling murah hati. Narottama däsa Öhäkura berkata, “Mohon berkarunia
kepada hamba. Engkau begitu murah hati, sebab Engkau telah melihat insan-insan
yang jatuh pada zaman ini, dan Engkau begitu berbelas kasih kepada mereka.
Tetapi Engkau perlu tahu, bahwa hambalah yang paling jatuh. Tidak ada orang
yang lebih jatuh daripada hamba.” Patita-pävana-hetu tava avatära:
“Inkarnasi-Mu hanyalah untuk menyelamatkan roh-roh yang terikat dan jatuh,
tetapi hamba meyakinkan Engkau bahwa Engkau tidak akan me-nemukan roh yang
lebih jatuh daripada diri hamba. Karena itu, permintaan hamba harus dipenuhi
terlebih dahulu.”
Kemudian Narottama däsa berkata kepada Çré Nityänanda, hä hä
prabhu nityänanda premänanda-sukhé: “Çré Nityänanda yang hamba cintai,
Engkau selalu riang dalam kebahagiaan rohani. Oleh karena Engkau selalu nampak
sangat bahagia, hamba datang kepada-Mu, sebab hamba paling tidak bahagia. Jika
Engkau bermurah hati dan berkenan melirik hamba, hamba juga akan menjadi
bahagia.” Kemudian Narottama däsa berdoa kepada Çré Advaita Prabhu. Doyä
koro sétä-pati adwaita gosäi. Istri Advaita Prabhu bernama Sétä. Karena itu
kadangkala Advaita disapa dengan nama sétä-pati. Jadi Narottama däsa
Thakur berdoa: “Advaita Prabhu yang hamba cintai, suami Sétä, Engkau begitu
murah hati. Mohon bermurah hati kepada hamba. Jika Engkau bermurah hati kepada
hamba, sewajarnya Çré Caitanya dan Çré Nityänanda juga akan bermurah hati
kepada hamba.” Sebenarnya Advaita Prabhu mengundang Çré Caitanya untuk turun ke
dunia ini. Ketika Advaita Prabhu melihat roh-roh yang jatuh semua sibuk hanya
dalam proses untuk memuaskan indera-indera tanpa mengerti kesadaran Kåñëa, Dia
me-rasa sangat berbelas kasih terhadap roh-roh yang jatuh itu, namun Dia
merasakan bahwa Diri-Nya tidak sanggup untuk menyelamatkan semuanya. Maka dari
itu Dia berdoa kepada Çré Kåñëa, “Mohon Engkau Sendiri datang. Tanpa
kehadiran-Mu secara pribadi, roh-roh yang jatuh ini tidak akan mungkin
diselamatkan.” Demikianlah, Çré Caitanya muncul karena di-undang oleh Advaita
Prabhu. Sewajarnya Narottama däsa Öhäkura berdoa kepada Advaita Prabhu, “Jika
Engkau bermurah hati kepada hamba, se-wajarnya Çré Caitanya dan Çré Nityänanda
juga akan bermurah hati kepada hamba.”
Kemudian Narottama däsa berdoa kepada para Gosvämé. Hä hä swarüp,
sanätana, rüpa, raghunätha. Swarüp berarti Svarüpa Dämodara,
sekretaris pribadi Çré Caitanya Mahäprabhu. Svarüpa Dämodara selalu bersama
Caitanya Mahäprabhu dan menyiapkan dengan segera apa pun yang di-inginkan oleh
Caitanya Mahäprabhu. Dua pelayan pribadi, Svarüpa Dämodara dan Govinda, selalu
bersama Çré Caitanya. Karena itu, Narottama däsa Öhäkura juga berdoa kepada
Svarüpa Dämodara dan kemudian kepada enam Gosvämé, murid-murid Çré Caitanya
berikutnya—Çré Rüpa Gosvämé, Çré Sanätana Gosvämé, Çré Bhaööa Raghunätha
Gosvämé, Çré Gopäla Bhaööa Gosvämé, Çré Jéva Gosvämé, dan Çré Raghunätha däsa
Gosvämé. Enam Gosvämé ini diperintahkan secara langsung oleh Çré Caitanya untuk
me-nyebarluaskan gerakan kesadaran Kåñëa ini. Narottama däsa Thäkura juga
berdoa memohon karunia mereka.
Setelah enam Gosvämé, äcärya berikutnya adalah Çréniväsa
Äcärya. Sebenarnya, Narottama däsa Öhäkura berada dalam garis perguruan setelah
Çréniväsa Äcärya dan hampir sebaya dengan Çréniväsa Äcärya, dan kawan pribadi
Narottama däsa adalah Rämacandra Cakravarté. Oleh karena itu Narottama däsa
berdoa, “Aku selalu menginginkan pergaulan Rämacandra.” Beliau menginginkan
pergaulan seorang penyembah. Keseluruhan proses-nya adalah bahwa kita hendaknya
selalu berdoa memohon karunia äcärya-äcärya terdahulu dan memelihara
pergaulan dengan penyembah-penyembah murni Tuhan. Maka akan lebih mudah bagi
kita untuk maju dalam kesadaran Kåñëa
dan menerima karunia Çré Caitanya dan Çré Kåñëa. Inilah inti dan hakikat
dari lagu yang dinyanyikan oleh Narottama däsa Öhäkura ini.
No comments:
Post a Comment
hare krishna, terima kasih