Saturday, September 21, 2013

Prasada Sevaya - Lagu-Lagu untuk Menghormati Makanan Rohani



Prasäda-seväya
Lagu-Lagu untuk Menghormati Makanan Rohani
(Dari Gétävalé)

Babak Satu (untuk dinyanyikan sebelum menghormati prasäda Tuhan)

(1) bhäi-re!
çaréra abidyä-jäl, joòendriya tähe käl,
jéve phele viñaya-sägore
tä’ra madhye jihwä ati, lobhamoy sudurmati,
tä’ke jetä kaöhina saàsäre

(2)  kåñëa baro doyämoy, koribäre jihwä jay,
swa-prasäd-anna dilo bhäi
sei annämåta päo, rädhä-kåñëa-guëa gäo,
preme òäko caitanya-nitäi


1) Wahai saudara-saudara! Badan material ini adalah jala kebodohan, dan indera-indera adalah musuh-musuh yang mematikan, sebab indera-indera melemparkan roh ke dalam lautan kenikmatan duniawi. Di antara indera-indera, lidahlah yang paling rakus dan sulit dikendalikan. Sangatlah sulit menaklukkan lidah di dunia ini.

2) Wahai saudara-saudara! Çré Kåñëa sangat penuh karunia dan Dia telah memberikan kita sisa dari makanan-Nya Sendiri hanya agar kita dapat me-ngendalikan lidah kita. Sekarang, terimalah Kåñëa-prasäda yang bagaikan minuman kekekalan itu, dan nyanyikanlah tentang kebesaran Çré Çré Rädhä dan Kåñëa, dan panggilah, “Caitanya! Nitai!” dalam cinta-bhakti.

Babak Dua (untuk dinyanyikan sambil menghormati prasäda)

(1)                                       bhäi-re!
eka-dina çäntipure,  prabhu adwaitera ghare,
dui prabhu bhojane bosilo
çäk kori’ äswädana,  prabhu bole bhakta-gaëa,
ei çäk kåñëa äswädilo

(2)            heno çäk-äswädane,  kåñëa-prema aise mane,
sei preme koro äswädana
jaòa-buddhi parihari’,  prasäd bhojana kori’,
‘hari hari’ bolo sarva jan

(1) Wahai saudara-saudara! Pada suatu hari di kediaman Çré Advaita di Çäntipura, Çré Caitanya dan Nityänanda duduk untuk makan siang. Çré Caitanya mencicipi hindangan sayur bayam kemudian berkata kepada para penyembah-Nya yang berkumpul di sana, “Çäk ini begitu lezat! Çré Kåñëa pasti telah mencicipinya.”

(2) “Dengan mencicipi çäk yang seperti ini,* rasa cinta kasih kepada Kåñëa bangkit di hati. Hendaknya kalian mencicipi prasäd ini dengan rasa cinta yang seperti itu. Tinggalkanlah segala paham duniawi dan terimalah prasäd Tuhan. Kalian semua ucapkanlah “Hari! Hari!”


* “Ibu Çacé mengetahui bahwa Çré Caitanya sangat puas dengan makan çäk [sayur bayam, dan sejenisnya-red]. Karena itu, Ibu Çacé suka memasak dua puluh jenis çäk. Sayur çäk lebih beruntung daripada masakan lain, sebab Çré Caitanya memakannya berulang kali. Çré Caitanya makan sambil tersenyum lembut, dan membicarakan kemuliaan çäk kepada semua orang. Dia berkata, ‘Çäk ini disebut acyuta. Dengan memakan çäk ini, rasa tertarik kepada Kåñëa berkembang di hati kita. [Ketika makan, Çré Caitanya biasa menyebutkan berbagai jenis çäk dengan berbagai nama Kåñëa]. Dengan makan sayur paöala, bästuka, dan käla çäk, seseorang mendapatkan pergaulan para Vaiñëava dalam setiap penjelmaannya. Jika ia makan säliïcä atau heläïcä çäk, ia akan tetap bebas dari penyakit dan akan mendapatkan bhakti kepada Kåñëa.’” (Çré Caitanya-bhägavata, Antya-khaëòa 4. 279, 293, 295-298)

No comments:

Post a Comment

hare krishna, terima kasih