Saturday, September 21, 2013

Lalasamayi Prarthana



Lälasämayé Prärthanä
(Dari Prärthanä)

(1)    ‘gauräìga’ bolite habe pulaka-çaréra
‘hari hari’ bolite nayane ba’ be néra

(2)    ära kabe nitäi-cänder koruëä hoibe
saàsära-bäsanä mora kabe tuccha ha’be

(3)    viñaya chäriyä kabe çuddha ha ‘be mana
kabe häma herabo çré-båndäbana

(4)    rüpa-raghunätha-pade hoibe äkuti
kabe häma bujhabo se jugala-périti

(5)    rüpa-raghunätha-pade rahu mora äça
prärthanä koroye sadä narottama-däsa



Penjelasan
Oleh Çré Çrémad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupäda

Lagu ini dinyanyikan oleh Narottama däsa Öhäkura, seorang penyembah agung dan äcärya besar dalam Gauòéya Vaiñëava-sampradäya, yaitu garis perguruan yang turun dari Çré Caitanya. Narottama däsa Öhäkura menulis banyak lagu, yang diakui sebagai ajaran yang dapat dipercaya oleh semua Vaiñëava. Beliau menyanyikan lagu-lagu ini dalam Bahasa Benggali yang sederhana, namun penjelasan dan makna lagu-lagu ini sangat dalam.
Dalam lagu ini, Narottama däsa berkata, ‘gauräìga’ bolite habe pulaka çaréra. Seseorang telah mencapai kesempurnaan dalam mengucapkan nama suci Tuhan  apabila begitu ia mengucapkan nama Çré Gauräìga, yang mem-prakarasi gerakan sankirtan ini, badannya langsung gemetar. Hal ini tidak untuk ditiru, tetapi Narottama däsa bertanya, “Kapankah saat yang mujur itu akan tiba bagi kita, saat badan gemetar begitu kita mengucapkan nama Çré Gauräìga?” Dan setelah gemetar—’hari hari’ bolite nayane ba ‘be néra: “Ketika kita mengucapkan Hare Kåñëa, air mata akan menetes.”
Kemudian Narottama däsa berkata, ära kabe nitäi-cänder koruëä hoibe. Kita semua mengharapkan karunia Çré Nityänanda. Nityänanda adalah guru spiritual mula-mula, jadi kita harus mendekati Gauräìga, Çré Caitanya, melalui karunia Çré Nityänanda. Apa ciri orang yang telah mendapatkan karunia tanpa sebab dari Çré Nityänanda? Narottama däsa Öhäkura me-ngatakan bahwa ciri orang yang benar-benar telah menerima karunia tanpa sebab dari Çré Nityänanda ialah bahwa dia tidak mempunyai keinginan duniawi lagi. Ära kabe nitäi-cänder koruëä hoibe saàsära-bäsanä mora kabe tuccha ha’be. Saàsära-bäsanä berarti “keinginan untuk kenikmatan duniawi.” Narottama däsa ingin tau kapan kenikmatan duniawi itu akan menjadi remeh sekali. Tentu saja, selama kita masih memiliki badan, kita akan terpaksa menerima begitu banyak benda material, tetapi bukan dengan semangat untuk menikmatinya, melainkan hanya untuk memelihara jiwa dan raga kita.
Selanjutnya Narottama däsa berkata, rüpa-raghunätha-pade hoibe äkuti: “Kapakah aku akan bersemangat sekali untuk mempelajari buku-buku yang diwariskan oleh Enam Gosvämé?” Akuti berarti “semangat”. Oleh karena Rüpa Gosvämé adalah Bapak pengabdian suci, beliau telah menulis buku yang berjudul Bhakti-rasämåta-sindhu, berisi petunjuk yang bagus tentang bhakti. Topik-topik ini juga telah dibicarakan di dalam Caitanya-caritämåta dan buku-buku lain. Kami telah meringkas buku-buku tersebut dalam buku kami yang berjudul Ajaran Çré Caitanya. Kita harus belajar tentang hubungan percintaan rohani Rädhä-Kåñëa melalui ajaran-ajaran Enam Gosvämé tersebut. Narottama däsa Öhäkura memberikan arahan agar kita jangan mencoba mengerti cinta kasih Rädhä-Kåñëa melalui usaha pribadi kita. Hendaknya kita berusaha mengerti yugala-périti, atau cinta antara kekasih terebut, di bawah petunjuk para Gosvämé.
Selama pikiran terlalu larut dalam pemikiran-pemikiran duniawi, se-seorang tidak dapat memasuki kerajaan Våndävana. Tetapi Narottama däsa Öhäkura berkata, viñaya chäriyä kabe çuddha ha’be mana kabe häma herabo çré-båndäbana: “Ketika pikiran telah disucikan sepenuhnya, dan telah bebas dari segala rasa cemas dan keinginan duniawi, baru aku akan mampu mengerti tentang Våndävana dan cinta kasih Rädhä-Kåñëa. Pada waktu itulah kehidupan rohaniku akan sukses.”  

No comments:

Post a Comment

hare krishna, terima kasih