Lälasämayé
Prärthanä
(Dari
Prärthanä)
(1) ‘gauräìga’ bolite habe pulaka-çaréra
‘hari hari’ bolite nayane
ba’ be néra
(2) ära kabe nitäi-cänder koruëä hoibe
saàsära-bäsanä mora kabe
tuccha ha’be
(3) viñaya
chäriyä kabe çuddha ha ‘be mana
kabe häma herabo
çré-båndäbana
(4) rüpa-raghunätha-pade hoibe äkuti
kabe häma bujhabo se
jugala-périti
(5)
rüpa-raghunätha-pade rahu mora äça
prärthanä koroye sadä
narottama-däsa
Penjelasan
Oleh
Çré Çrémad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupäda
Lagu ini dinyanyikan
oleh Narottama däsa Öhäkura, seorang penyembah agung dan äcärya besar
dalam Gauòéya Vaiñëava-sampradäya, yaitu garis perguruan yang turun dari Çré Caitanya.
Narottama däsa Öhäkura menulis banyak lagu, yang diakui sebagai ajaran yang
dapat dipercaya oleh semua Vaiñëava. Beliau menyanyikan lagu-lagu ini dalam
Bahasa Benggali yang sederhana, namun penjelasan dan makna lagu-lagu ini sangat
dalam.
Dalam lagu ini, Narottama däsa berkata, ‘gauräìga’ bolite habe
pulaka çaréra. Seseorang telah mencapai kesempurnaan dalam mengucapkan nama
suci Tuhan apabila begitu ia mengucapkan
nama Çré Gauräìga, yang mem-prakarasi gerakan sankirtan ini, badannya
langsung gemetar. Hal ini tidak untuk ditiru, tetapi Narottama däsa bertanya,
“Kapankah saat yang mujur itu akan tiba bagi kita, saat badan gemetar begitu
kita mengucapkan nama Çré Gauräìga?” Dan setelah gemetar—’hari hari’ bolite
nayane ba ‘be néra: “Ketika kita mengucapkan Hare Kåñëa, air mata akan
menetes.”
Kemudian Narottama däsa berkata, ära kabe nitäi-cänder koruëä
hoibe. Kita semua mengharapkan karunia Çré Nityänanda. Nityänanda adalah
guru spiritual mula-mula, jadi kita harus mendekati Gauräìga, Çré Caitanya, melalui
karunia Çré Nityänanda. Apa ciri orang yang telah mendapatkan karunia tanpa
sebab dari Çré Nityänanda? Narottama däsa Öhäkura me-ngatakan bahwa ciri orang
yang benar-benar telah menerima karunia tanpa sebab dari Çré Nityänanda ialah
bahwa dia tidak mempunyai keinginan duniawi lagi. Ära kabe nitäi-cänder
koruëä hoibe saàsära-bäsanä mora kabe tuccha ha’be. Saàsära-bäsanä berarti
“keinginan untuk kenikmatan duniawi.” Narottama däsa ingin tau kapan kenikmatan
duniawi itu akan menjadi remeh sekali. Tentu saja, selama kita masih memiliki
badan, kita akan terpaksa menerima begitu banyak benda material, tetapi bukan
dengan semangat untuk menikmatinya, melainkan hanya untuk memelihara jiwa dan
raga kita.
Selanjutnya Narottama däsa berkata, rüpa-raghunätha-pade hoibe
äkuti: “Kapakah aku akan bersemangat sekali untuk mempelajari buku-buku
yang diwariskan oleh Enam Gosvämé?” Akuti berarti “semangat”. Oleh
karena Rüpa Gosvämé adalah Bapak pengabdian suci, beliau telah menulis buku
yang berjudul Bhakti-rasämåta-sindhu, berisi petunjuk yang bagus tentang
bhakti. Topik-topik ini juga telah dibicarakan di dalam Caitanya-caritämåta
dan buku-buku lain. Kami telah meringkas buku-buku tersebut dalam buku kami
yang berjudul Ajaran Çré Caitanya. Kita harus belajar tentang hubungan
percintaan rohani Rädhä-Kåñëa melalui ajaran-ajaran Enam Gosvämé tersebut.
Narottama däsa Öhäkura memberikan arahan agar kita jangan mencoba mengerti
cinta kasih Rädhä-Kåñëa melalui usaha pribadi kita. Hendaknya kita berusaha
mengerti yugala-périti, atau cinta antara kekasih terebut, di bawah
petunjuk para Gosvämé.
Selama pikiran terlalu larut dalam pemikiran-pemikiran duniawi,
se-seorang tidak dapat memasuki kerajaan Våndävana. Tetapi Narottama däsa
Öhäkura berkata, viñaya chäriyä kabe çuddha ha’be mana kabe häma herabo
çré-båndäbana: “Ketika pikiran telah disucikan sepenuhnya, dan telah bebas
dari segala rasa cemas dan keinginan duniawi, baru aku akan mampu mengerti
tentang Våndävana dan cinta kasih Rädhä-Kåñëa. Pada waktu itulah kehidupan
rohaniku akan sukses.”
No comments:
Post a Comment
hare krishna, terima kasih