Friday, September 20, 2013

Sri Sri Siksastaka-Delapan Ajaran Sri Caitanya Mahaprabhu



Çré Caitanya Mahäprabhu memerintahkan kepada murid-muridnya agar mereka menulis buku-buku ilmu pengetahuan tentang Kåñëa. Tugas ini telah terus dilanjutkan oleh para pengikut-Nya sampai saat ini. Uraian dan pemaparan panjang lebar mengenai filsafat yang diajarkan oleh Çré Caitanya kenyataannya sangatlah luas, tepat dan konsisten di antara kultur-kultur keagamaan di dunia, disebabkan oleh adanya garis perguruan yang tak terputus. Walaupun Çré Caitanya termashyur sebagai sarjana pada masa muda-Nya, kenyataannya Dia hanya mewariskan delapan ayat, yang berjudul Çikñäñöaka. Delapan ayat ini mengemukakan misi dan ajaran Çré Caitanya dengan jelas. Berikut adalah terjemahan doa-doa yang sangat berharga ini:


Çré Çré Çikñäñöaka

(1)  ceto-darpaëa-märjanaà bhava-mahä-dävägni-nirväpaëaà
çreyaù-kairava-candrikä-vitaraëaà vidyä-vadhü-jévanam
änandämbudhi-vardhanaà prati-padaà pürëämåtäsvädanaà
sarvätma-snapanaà paraà vijayate çré-kåñëa-saëkértanam

(2) nämnäm akäri bahudhä nija-sarva-çaktis
taträrpitä niyamitaù smaraëe na kälaù
etädåçé tava kåpä bhagavan mamäpi
durdaivam édåçam ihäjani nänurägaù

(3)     tåëäd api sunécena
taror api sahiñëunä
amäninä mänadena
kértanéyaù sadä hariù

(4) na dhanaà na janaà na sundaréà
kavitäà vä jagad-éça kämaye
mama janmani janmanéçvare
bhavatäd bhaktir ahaituké tvayi

(5)  ayi nanda-tanuja kiìkaraà
patitaà mäà viñame bhavämbudhau
kåpayä tava päda-paìkaja-
sthita-dhülé-sadåçaà vicintaya
(6)                       nayanaà galad-açru-dhärayä
vadanaà gadgada-ruddhayä girä
pulakair nicitaà vapuù kadä
tava-näma-grahaëe bhaviñyati

(7) yugäyitaà nimeñeëa
cakñuñä prävåñäyitam
çünyäyitaà jagat sarvaà
govinda-viraheëa me

(8)   äçliñya vä päda-ratäà pinañöu mäm
adarçanän marma-hatäà karotu vä
yathä tathä vä vidadhätu lampaöo
mat-präëa-näthas tu sa eva näparaù

(1) Segala pujian kepada çré-kåñëa-saìkértana, yang menyucikan hati dari segala debu yang telah menumpuk selama bertahun-tahun dan me-madamkan api kehidupan terikat, yakni kelahiran dan kematian yang dialami berulang kali. Gerakan saìkértana ini adalah berkat yang paling utama bagi umat manusia secara luas, sebab ia memancarkan sinar bulan karunia. Saìkértana adalah nyawa dari segala pengetahuan rohani. Saìkértana memperluas lautan kebahagiaan rohani, dan memungkinkan kita untuk merasakan secara sempurna minuman kekekalan yang selalu kita idamkan.

(2) Oh Tuhan, satu-satunya nama suci-Mu yang dapat memberikan segala jenis berkat kepada para makhluk hidup. Karena itu, Engkau mempunyai berjuta-juta nama, misalnya Kåñëa dan Govinda. Engkau telah mengisi segala tenaga rohani-Mu dalam nama-nama suci itu. Tidak ada aturan yang ketat untuk mengucapkan nama-nama tersebut. Oh Tuhan, atas kemurahan hati-Mu, Engkau memungkinkan kami mudah mendekati-Mu melalui nama-nama suci-Mu, namun nasib hamba sangat malang hingga hamba tidak memiliki ketertarikan terhadap nama-nama suci itu.

(3) Orang hendaknya mengucapkan nama suci Tuhan dengan sikap pikiran yang rendah hati, dengan menganggap diri lebih rendah daripada rumput di jalan. Hendaknya ia lebih toleransi daripada sebatang pohon, bebas dari segala rasa bangga yang palsu, dan siap memberi segala hormat kepada orang lain. Dengan sikap pikiran seperti itulah ia dapat mengucapkan nama suci Tuhan senantiasa.
(4) Oh Tuhan Yang Mahakuasa, hamba tidak ingin mengumpulkan ke-kayaan, menikmati bersama wanita yang cantik, atau mempunyai sejumlah pengikut. Yang hamba inginkan hanyalah bhakti yang tiada sebabnya kepada-Mu, dalam setiap penjelmaan hamba.

(5) Wahai Putra Mahäräja Nanda [Kåñëa], hamba adalah pelayan-Mu untuk selamanya, namun entah bagaimana hamba telah jatuh ke dalam lautan kelahiran dan kematian. Mohon mengangkat hamba dari lautan kematian ini dan tempatkan hamba sebagai salah satu di antara atom-atom pada kaki-padma-Mu.

(6) Oh Tuhan, kapankah mataku akan terhias dengan air mata cinta-bhakti yang mengalir senantiasa apabila kuucapkan nama suci-Mu? Kapan suaraku akan tersendat-sendat, dan kapan bulu romaku akan berdiri merinding apabila kuucapkan nama-Mu?

(7) Oh Govinda! Karena merasakan perpisahan terhadap-Mu, hamba merasa sesaat seperti dua belas tahun atau lebih. Air mata mengalir dari mata hamba bagaikan curahan hujan, dan hamba merasakan segala sesuatu di dunia ini hampa dalam ketidakhadiran-Mu.

(8) Hamba tidak mengenal siapa pun selain Kåñëa sebagai Tuhan hamba, dan Dia akan tetap demikian bahkan jika Dia memperlakukan hamba dengan kasar dalam pelukan-Nya atau membuat hamba patah hati dengan cara tidak hadir di hadapan hamba. Dia bebas melakukan apa pun, sebab Dia selalu tetap sebagai Tuhan yang kusembah tanpa tuntutan maupun syarat.

No comments:

Post a Comment

hare krishna, terima kasih